Minggu, 30 Maret 2008

Assignment - Marketing

STRATEGI PEMASARAN TAHUN 2004 HARUS BERANI MENYERANG KELUAR


Tahun 2004 diwarnai dengan situasi politik yang belum menentu. Dari sisi ekonomi selama setahun ini, masyarakat didera kenaikan harga. Mulai dari BBM, tariff listrik dan telepon. Data terakhir dari bank Indonesia mengatakan kepercayaan masyarakat berbelanja agak turun.

Persaingan bisnis akan semakin tajam. Hal ini ditandai dengan penerapan bea masuk menjadi 0% untukl pasar bebas ASEAN (AFTA). Persaingan ditambah lagi oleh banyaknya barang impor yang berharga murah. Mau tidak mau para pemasar dituntut menyusun Marketing Plan secara cermat dan hati-hati.

Menurut konsultan pemasarn dari Arrbey, Handiti Hadi Joewono, fenomena masyarakat “mengerem” konsumsi mereka merupakan aspek psikologis yang sifatnya jangka pendek. Dari indicator=indicator ekonomi, menurutnya tidak ada alas an untuk pesimis. Ia optimis melihat ekonomi Indonesia masih bertumbuh dengan baik di tahun depan. Ia memberi catatan khusus pada masuknya barang-barang murah, terutama dari Cina. Soal lain yang harus diantisipasi adalah diberlakukannya pasar bebas ASEAN. Ia melihat Indonesia ,masih belum bisa memanfaatkan AFTA.

Strategi “7 in 1”
Untuk menyikapi masalah ini, menurut Handito, pertama jangan sampai kehiulangan optimisme pasar, Kedua dalam hal ini ia memperkenalkan konsep “7 in 1” Strategy.
Yang kebijakannya antara lain:
-Great perception,
-Quality product,
-Innovative product,
-Customer engagement,
-Massive distribution,
-Competitive price,
-Strive sales Person dan
-Consumer Insight.”
Dalam hubungannya dengan penyusunan Marketing Plan, Handito menuturkan bahwa Marketing Plan yang baik merupan peta bisnis dan analisa pasar. Setelah itu kita harus merumuskan target competitor. Kalau sudah ditentukan silahkan memilih strategi bersaing, baru tentukan pilihan-pilihan strategi andalannya, lalu dibuat Marketing program, target dan budget.

Kompetisi yang semakin tajam membuat perusahaan harus memiliki Competition Objectives. Ia melihat kelemahan perusahaan Indonesia dalam membuat marketing plan disebabkan oleh tidak adanya informasi. Maka, institusinya harus lebih proaktif.


ANALISIS SWOT ITU PENTING


Minggu-minggu ini para manager tengah sibuk mempersiapkan Marketing Plan (MP) perusahaan untuk tahun 2004. Seperti kita ketahui, tahun depan akan berlangsung pemilu, sehingga ditengarai factor makro, yakni ekonomi politik, akan besar pengaruhnya. Jika makro berubah, maka strategi berubah.

Kata pengamat Darmadi Durianto, Ia menyarankan agar perusahaan berhati-hati dAalam membuat Marketing Plan. Sebelum menyusun strategi pemasarn, lingkungan makro dan impactnya terhadap mikronya harus dilihat dulu. Jadi tambahnya, analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threat) merupakan hal vital di tahun 2004.

Freddy Rangkuti Konsultan pemasaran yang juga pengarang buku “Marketing Plan” ini mengatakan, analisi tersebut dipakai supaya tahu persis kekuatan dan kelemahan internal kita, serta peluang eksternal kita dan ancamannya. Baru selanjutnya menyusun strategi yang kemudian dituangkan dalam proyek kerja. Dalam program kerja itu, harus ada siapa yang bertanggung jawab menjalankannya, waktunya berapa lama, berapa berapa dukungan budgetnya dan apa ukuran keberhasilannya.
Freddy juga mengatakan, MP berupa pendahuluan, analisi bisns, latar belakang bisnis, dan lingkungan makro. Kemudian analisis pasar, disini ada definisi segmentasi, consumer, needs, persaingan (analisis SWOT). Baru selanjutnya strategi Marketing: target market, positioning, strategi dan program.
Untuk mendukung strategi ini dibutuhkan Marketing Mix secara specific. Yang paling penting dari semuanyta adalah strategi nya. Strategi ini harus di evakuasi : apakah yang dilakukan sekarang sudah pas dengan target market dan positioning nya.
Setelah tahu posisinya dibanding competitor, untuk mendukung kegiatan agar positioning bisa lebih focus, harus ada deferensiasi.

“Saya sering kritik, orang kebanyakan kejar market share, kejar sales tanpa memperhitungkan profitnya. Banyak kasus promosi iklan di TV yang gila-gilaan, tetapi akhirnya anjlok karena profitnya tidak dipertimbangkan. Dengan kemampuan Marketing Plan, kemampuan itu bisa diukur. Jangan sampai over budget seperti iklan ‘Irex’ yang biaya promosi sebesar dari omset penjualan yang diperoleh. Kelemahan lain dalam menyusun MP, sambungannya ialah kurang bisa menahan emosi.

Menyinggung soal perusahaan yang merombak MP sampai 3-4 kali dalam setahun, Ia melihat itu bisa terjadi jika tidak dilakukan SWOT. Didalamnya terdapat analisis kondisi dibanding dengan pesaing utama.. juga ada rating, yaitu estimasi perubahan yang terjadi tahun depan. Oleh karena itu MP harus memiliki Contigency Plan.

Kesimpulannya, untuk membuat Marketing Plan yang baik, sebelum menyusun program kerja tahunan harus dilakukan SWOT karena semua kuncinya ada pada SWOT.


“Faktor emosional semakin berperan dalam membuat program kepuasan pelanggan” (Handi Irawan)

Harapan konsumen sudah pasti akan meningkat dalam kondisi normal. Harapan pelanggan bisa terjadi penurunan apabila situasi tahun 2004 kacau karena faktor politik dan keamanan.

Faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan akan mengalami pergeseran. Walaupun demikian secara umum, factor emosional akan semakin memiliki peran yang besar untuk menentukan kepuasan pelanggan.

Selama 3 tahun terakhir ini, CRM memang sudah mulai menjadi perhatian. Hal ini dikarenakan perusahaan melihat kenyataan bahwa pola pareto sering terjadi. Hanya saja, program CRM banyak mengalami kegagalan karena banyak perusahaan hanya sekedar ikut-ikutan dan tidak ingin ketinggalan. Banyak dari mereka yang tidak siap dengan customer database dan strategi. Selain itu, komitmen yang juga rendah akhirnya mengakibatkan banyak data dan informasi yang tidak di-update. Tetapi sekarang, sudah banyak perusahaan yang belajar dari kesalahan dan lebih berhati-hati dalam penerapannya.

Menyususn CS program harus melibatkan komitmen dari top manajemen dan seluruh jajaran. Selanjutnya, CS program harus didukung dengan suatu system yang jelas, contohnya mereka harus memiliki service blueprint yang jelas, standar layanan yang jelas dan goal setting. Setelah itu, diformulasikan strateginya.

Tidak ada komentar: