
Être Et Avoir
(To Be And To Have)
Salah satu film Perancis garapan Nicolas Philibert yang diputar di International Film Festival (Jiffest) ini mungkin bukanlah sebuah film ‘berat’, tetapi Être Et Voir merupakan sebuah film ringan yang ‘berisi’. Apa yang ditampilkan di film ini, itulah keadaan yang terjadi sebenarnya. Single-class school, yang ditangani oleh seorang guru berdidikasi tinggi yang mengajar sekitar satu lusin murid di dalam satu kelas.
Dengan tidak bertele-tele film ini cukup banyak menyadarkan kita akan kepolosan anak kecil dan kesabaran seorang guru yang selain sebagai guru, ia juga berperan seperti orang tua bagi anak-anak tersebut.
Terinspirasi oleh fenomena sekolah ‘satu kelas’, film ini menampilkan kehidupan sekolah tersebut selama satu tahun akademik, dan menangkap kehangatan dan ketenangan pendidikan dasar di Perancis. Masih ada, bahkan di tiap-tiap penjuru di Perancis, selusin anak berumur 4 – 10 tahun, belajar bersama di bawah asuhan seorang guru yang berdedikasi penuh. Georges Lopez dengan sabar membimbing anak-anak, melayani argumen mereka secara tenang dan mendengarkan masalah dengan penuh perhatian. Film ini berjalan sangat smooth dan mudah dicerna bagi semua kalangan. Film drama comedy family ini mengajarkan kita tentang bagaimana menangani anak-anak umur balita sampai yang akan memasuki sekolah menengah dengan sabar dan ‘secara anak-anak’. Dengan ending yang cukup menyentuh bisa mengajak penonton yang tertawa sepanjang film diputar akhirnya meneteskan air mata hanya dengan 5 menit adegan di ending film.
Seluruh nama tokoh dalam film ini merupakan nama yang sebenarnya. Sang guru, Monsieur Georges Lopez yang ternyata keturunan Spanyol ini memang di kenyataannya sudah 35 tahum mengabdi sebagai guru. Beliau sangat ahli dalam menangani anak-anak yang kesulitan di pelajaran, yang nakal, bahkan memberikan advice untuk masalah keluarga yang bisa diterima anak-anak tersebut. Adalah Jojo, yang di dalam film ini terlihat sebagi anak yang sangat polos tetapi agak ‘lambat’ dan meskipun begitu kelihatan bahwa Jojo adalah murid kesayangan Georges.
Film ini juga tidak terlalu rasis, karena bisa kita lihat adanya anak Jepang bernama Marie yang sedikit genit dan selalu ingin tahu urusan orang. Ada juga Olivér yang sudah agak besar tetapi suka berkelahi. Para pemain kecil yang lain antara lain didukung oleh Axel, Letitía, Gullaume, Laura, Jesse, Johann, Alice, Julien, Jonathan dan Nath.
Penokohan dari semua pemain tampak sangat natural. Beberapa dari murid-murid tersebut bahkan tertawa saat melihat ke arah kamera. Dan ada bagian di mana George Lopez menceritakan tentang kehidupannya.
Sang director, Nicolas Philibert memang ingin mengangkat film yang berdasarkan pada real life di daerah pedalaman, meskipun tetap bisa kita lihat sang guru mengendarai mobil Audi 4 series –yang mungkin tidak akan kita temukan di pedalaman Indonesia. Film yang bersetting di sekolah-rumah-taman bermain dan museum ini berlokasi di jantung kota kecil, Auvergne di wilayah Massif Central-Perancis. Shooting di sekolah berlangsung di sebuah sekolah kecil Saint-Etienne sur Usson. Film yang menampilkan kehidupan murid-guru selama setahun ini terlihat pas karena pengambilan gambarnya juga disetting sehingga empat musim di Perancis terlihat di film ini. Pada awal film kita bisa lihat betapa sulitnya winter di daerah rural tersebut dan dengan harsh climate yang sangat mendukung soul film ini, dan selanjutnya spring-summer-autumn dan di akhir film kembali ke winter.
Tidak tidak ada effek yang dipakai di film ini. Bahkan tidak ada artificial lighting di dalam film ini. Semua sangat alami dan tidak ada camouflage.
Film yang karena penghargaan-penghargaannya bisa masuk dalam kategori Official Selection Cannes 2002 ini menjadi nominasi untuk César for Best Film & Best Director-César Awards France 2003 dan juga telah menyabet penghargaan yang masuk dalam kategori jenis Film-Documentary, antara lain:
o Best Directory, European Film Awards 2002
o César for Best Editing, César Awards 2002
o Critics Award, French Syndicate of Cinema Critics 2003
o France Cinema Grand Prize, France Cinema 2002
o Best Film Prix Louis Delluc, 2002
o Best Documentary, Valladolid Int. Film Festival 2002
Sangat wajar tentunya jika film yang berdurasi 105 menit ini menyabet sejumlah penghargaan di atas. Karena meskipun tergolong film ringan, Être et Avoir sangat berisi dan terhitung sebagai film berbobot untuk ukuran film documentary-comedy family.
Proses prduksi berjalan sekitar dua tahun. Dimulai saat Nicolas menyiapkan project ini pada Spring tahun 2000, yang akhirnya dijalankan setelah Georges Lopez bersedia untuk ikut serta dalam film ini, sekaligus sebagai sepak terjang akhir sebelum beliau pensiun mengajar. Setelah yakin dengan lokasi yang tepat pada bulan Oktober 2002, akhirnya proses produksi berlangsung pada bulan November. Proses produksi ini berjalan lancar, hanya dinginnya winter yang kadang menjadi kendala. Tapi tak perlu disangsikan bahwa film ini adalah termasuk “it’s a must family film”.
Être et Avoir sebenarnya mengajarkan kita bagaimana mengajarkan attitude dan menghadapi anak kecil yang memang masih sangat polos dan yang selalu bersikap spontan. Film ini juga menunjukkan kesedihan George sebagai guru yang telah mengajar mereka selama setahun, harus berpisah karena mereka masing-masing akan pindah ke jenjang yang lebih tinggi. Akting George saat menahan air mata di depan murid-muridnya sampai akhirnya ia meneteskan air mata sangatlah menyentuh dan sangat natural.
Sepertinya susah mencari cacat dari film ini, mungkin karena semuanya serba natural menjadikan film ini sempurna di mata kaum awam. Based on real life, no artificial lighting, and extremely natural. Two thumbs up for Nicolas Philibert, crews and the actors!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar