Minggu, 30 Maret 2008

Assignment - Business Administration. "Philip Morris" Company

KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena rahmatNyalah maka makalah ini dapat kami selesaikan tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini kami juga ingin menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Mrs. Elke Alexandrina selaku lecturer yang senantiasa membimbing kami dan mengarahkan kami dalam pembuatan makalah ini.
2. Mr. Michael. S (HRD) dari Philip Morris-Jakarta yang telah meluangkan waktunya untuk interview dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kami sehingga membantu kelancaran proses pengerjaan makalah ini.
3. Teman-teman sekelompok di kelas 9A.
4. Semua pihak yang turut mendukung yang tidak dapat kami sebutkan namanya satu per satu.
Akhir kata, besar harapan kami agar kiranya makalah ini dapat berguna bagi rekan-rekan mahasiswa dan semua pihak yang membutuhkannya.




Jakarta, Desember 2004


Penyusun




PHILIP MORRIS


Philip Morris-Indonesia selaku perusahaan besar yang memproduksi rokok ternama ‘Marlboro’ tidak memiliki Costumer service. Tetapi mereka memiliki QE (Quality Ensurance) yang berpusat di Malang-Jawa Timur, hal ini dikarenakan keseluruhan proses produksi dilakukan di Malang. Sedangkan di Jakarta sebagai Headquarters (markas besar) dari Philip Morris-Indonesia.

Perusahaan ini menggunakan sistem “desentralisasi” untuk pengerjaan filing administration. Filing document dilakukan oleh masing-masing departemen. Administration function juga dilakukan masing-masing. Administrasi ada di bawah Human Resources dimana selaku departemen yang menangani masalah-masalah intern kantor, seperti : peralatan-peralatan kantor, mobil-mobil kantor, housing, letter permit.

Philip Morris meminjamkan modal dan warung-warung bagi beberapa pedagang. Tetapi hanya warung-warung yang terdapat sticker Marlboro-nya saja. Secara tidak langsung warung-warung yang ada sticker Marlboro official menjadi “warung Philip Morris”.

Pada bagan-bagan chart yang telah digambarkan, dapat kita lihat bahwa Philip Morris menempatkan beberapa badan Departemen beserta fungsi, tugas dan kegunaannya. Badan-badan tersebut antara lain:
• LO (Leave Operation)
Dimana Philip Morris bekerja sama denga para petani-petani tembakau yag nantinya hasil tembakau tersebut akan dijual kepada Philip Morris. Jadi, dengan kata lain perusahaan ini bekerja sama dengan petani-petani tembakau yang berperan sangat penting sebagai bahan baku bagi pelaksanaan proses produksi.
• CA (Corporate Affair)
Perusahaan menjalin hubungan dan kerja sama dengan badan-badan pelayanan jasa lainnya yang akan mempromosikan dan memperkenalkan produk mereka kepada massa. Contohnya seperti Public Relations, Advertising, Promoting, dll.

• Financial
Dalam bidang financial, perusahaan membawahi Information System, Internal Contacts dan bidang lain yang dapat membantu dalam pelaksanaan gerak laju financial di dalam perusahaan ini sendiri.
• Marketing
Dalam hal ini, marketing berfungsi sebagai promotion services. Dimana marketing bertugas untuk mempromosikan produk dari perusahaan ini.
• MMF (Malang Manufacturing)
MMF berfungsi sebagaimana Malang merupakan tempat dilakukannya keseluruhan proses produksi.

Rokok yang diproduksi Philip Morris di Indonesia antara lain: Marlboro, LONG BEACH, LNM dan Virginia Slim. Tetapi yang paling ‘menonjol’ adalah Marlboro. Semua proses distribusinya dilakukan melalui BENTOEL.
Maka dapat kita ketahui bahwa Philip Morris-Indonesia menggunakan sistem “direct-indirect” dalam proses pemasarannya.

‘Perusahaan raksasa’ yang dikepalai oleh Joe Cullman selaku Former dan Jack Landry selaku Former Direction ini dalam proses produksinya pun memiliki pengklasifikasian sendiri. Seperti pada Marlboro, cukup banyak jenis Marlboro yang dipasarkan di sini. Antara lain: Marlboro Merah, Marlboro Menthol, Marlboro Lights Menthol, Marlboro Lights dan Marlboro Ultra Lights (tidak diproduksi di Indonesia). Jenis-jenis ini didasarkan pada panjangnya filter, lubang pada kertas pembungkus tembakau(papir) dan pada aroma Menthol di kertas bagian dalam bungkus(khusus Menthol).
Pada Marlboro ‘Lights’ papir dibuat lebih panjang dibanding Marlboro biasa (non-lights). Begitu juga pada Marlboro ‘Ultra Lights’, filter lebih panjang dari Marlboro ‘Lights’, dan lubang-lubang pada papir lebih banyak dibanding Marlboro Lights atau non-lights.

Philip Morris tidak mempromosikan produk-produknya melalui Ad. TV (iklan Televisi). Meskipun dulu Marlboro sempat mengiklankan rproduknya di TV, tetapi sudah lama belakangan ini tidak pernah lagi kita lihat iklan Marlboro di layar kaca. Kita hanya dapat melihat iklan Marboro di media cetak seperti majalah dan Billboard.
Hal ini dikarenakan Marlboro (di bawah bendera Philip Morris) terikat dengan ‘social policy’ dan ‘international policy’ yang tidak mengijinkan iklan Marlboro ditayangkan di layar televisi. Kebijakan tersebut dibuat sedemikian rupa untuk mengantisipasi munculnya pengaruh buruk bagi anak-anak di bawah umur yang bisa dengan mudah melihat iklannya di Televisi, kemudian mulai meniru untuk coba-coba merokok. Hal inilah yang ingin dihindari. Mungkin terkesan terlalu ‘naif’, tetapi dengan kebijakan ini pula lah maka Malboro sebagai ‘rokok besar’ memiliki citra/image-nya sendiri.

Tidak ada komentar: