Minggu, 30 Maret 2008

ASSIGNMENT III Short Semester – International Marketing


Name : Debora Aryanti N.I.M : 2004 08 0110 Class : PR 8-9C
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Product : POCARI SWEAT
Brand Tracking Survey – Q: “When I say POCARI SWEAT, what are the first associations that come to your mind?”
Pendapat dari 5 orang mengenai POCARI SWEAT:
1. Ann Christine Citadini / 21tahun / Mahasiswi
 minuman menyegarkan, pengganti ion tubuh, pemuas dahaga, berwana biru, kesannya sehat kalau minum itu.
2. Krisna Rosita / 26 tahun / Mahasiswi – Consultant
 minum pas berkeringat, lagi fitness, minuman segar, fresh.
3. Maria Christina / 25 tahun / Manager
 minuman kesehatan, penambah cairan tubuh, diminum setiap hari, bisa jadi infuse karena isinya pocari sama seperti infus, kalau bedan berasa gak fit langsung minum pocari, pengonsumsi berat pocari, sugesti kalau satu hari aja tidak minum pocari badan berasa lemas.
4. Arlyn Aryana / 21 tahun / Mahasiswi – AE
 olahraga, segar, penghilang dahaga, pengganti ion tubuh.
5. Jonathan Mulia / 21 tahun / Mahasiswa – Aktor
 segar dan enak banget diminum setelah olahraga, kalau badan muali berasa tidak fit langsung minum pocari, minuman isotonic.

Kesimpulan: berdasarkan pendapat dari 5 orang diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa POCARI SWEAT telah menjadi mind set sebagai minuman isotonic yang fresh dan menyegarkan, pemuas dahaga, pengganti ion tubuh, identik dengan kegiatan yang berkeringat (berolahraga, fitness, dll), dan menyegarkan jika dikonsumsi setelah berolahraga. Pocari juga dianggap minuman kesehatan yang diminum pada saat badan terasa tidak fit karena dianggap kandungan pocari sama dengan infus. Satu dari responden merupakan pengkonsumsi berat POCARI SWEAT, dimana yang bersangkutan setiap hari mengkonsumsi pocari dan bersugesti jika tidak mengkonsumsi pocari maka badan terasa lemas. Tetapi ada juga yang beranggapan pocari adalah minuman yang ‘terkesan’ sehat. Tampaknya pendapat dari lima orang diatas menjurus kepada opini netral cenderung positif. Hal ini menunjukkan posisi pocari sebagai minuman isotonic di tengah masyarakat cukup baik.

ASSIGNMENT II - Short Semester – International Marketing


Name : Debora Aryanti N.I.M : 2004 08 0110 Class : PR 8-9C
-------------------------------------------------------------------------------------
Product :BOURJOIS Blush/Blusher

The three major functions of product’s packaging:
• Protection  Para wanita tentunya menginginkan segala sesuatu yang cantik dan tidak ribet, terutama untuk perlengkapan make up. Blush on (perona pipi) BOURJOIS ini dikemas dengan cantik, aman dan higienis. Produk ini merupakan blush on padat yang dikemas dalam mini packaging yang memiliki blusher dan cermin di dalamnya. Cara membukanya pun dilengkapi dengan button kecil yang memudahkan untuk membuka/tutup produk ini, sekaligus aman karena blush/blusher tidak mungkin tercecer di tas ataupun make up kit. Sehingga lebih locked-up dan higienis.

• Promotion  Kemasan BOURJOIS sangat simple dan terlihat tetap elegan. Packagingnya berbentuk mini round shape dengan warna sesuai dengan warna blush di dalamnya yang dicampur gradasi keemasan, dan tulisannya berwarna keemasan. Pada tutupnya tertera juga kode nomer dan jenis warna blush tersebut (e.g. 33 LILAS D’OR). Memudahkan pemakai untuk mengetahui jenis warna blush yang diinginkan.

• User Convenience  Produk ini sangat nyaman dan praktis untuk dibawa-bawa. Selain ukurannya yang kecil dan tertutup rapat, para pengguna juga semakin merasa nyaman karena blush on ini telah dilengkapi kaca kecil dan kuas (blusher) di dalamnya, sehingga para wanita tidak harus repot-repot membawa blusher dan kaca secara terpisah. Karena bentuknya yang sangat simple, memudahkan produk ini untuk dibawa di tas kecil sekalipun.

ASSIGNMENT (Short Semester – International Marketing)

Name : Debora Aryanti N.I.M : 2004 08 0110 Class : PR 8-9C
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Product : Dog’s Apparel – accessories, grooming, et cetera…
Naming : OhMyD G!
• Message : OhMyDOG! Adalah sebuah nama produk (merek) dan butik yang menyediakan produk dan jasa untuk anjing peliharaan tersayang. OhMyDOG! Menyediakan baju, jaket, celana dan pernak-pernik yang berhubungan dengan anjing. OhMyDOG! Juga menyediakan jasa custom made clothing, grooming dan coaching.
• OhMyDOG! Diambil dari bahasa Inggris yang kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia “oh anjing-ku!”, ke bahasa Jerman “oh mein Hund!”, dan seterusnya. Karena diambil dari bahasa yang paling universal, diharapkan tidak ada penafsiran/penerjemahan yang buruk pada nama ini.
• OhMyDOG! Dapat dimengerti oleh semua orang dari seluruh negara dan kebudayaan, ini dipengaruhi oleh nama yang terdengar familiar dan bersifat universal.
• OhMyDOG! Mudah diingat karena terdengar mirip dan identik dengan kata-kata “Oh My God!” yang nampaknya sudah sangat familiar di telinga dan ingatan setiap orang. Dan mudah diingat pula jika disingkat jadi ‘OMD!’
• OhMyDOG! Sangat mudah diucapkan dan hampir semua orang dapat melafalkannya dengan benar.
• Saat orang mendengar dan atau membaca nama “OhMyDOG!”, maka yang muncul di kepala adalah “Oh My God”, dengan adanya penggantian kata ‘God’  ‘DOG’, hal ini membuat orang langsung berpikir bahwa nama tersebut menjual segala sesuatu yang berhubungan dengan anjing.
• OhMyDOG! Dipatenkan agar tidak ‘di-copy’ oleh pihak lain. Daftar hak paten bukan hanya menjaga kepatenan sebuah nama produk, tetapi juga untuk membuktikan bahwa produk tersebut sudah sah dan ter

Assignment - "The Tuna and the Dolphin"

The Tuna and the Dolphin

Nowadays, marine scientist have no idea why, but some of dolphins swim above, or “associate with” schools of mature yellow fin, skipjack, and big eye tuna.
Thus, to catch quantities of tuna, fisherman looks for the leaping dolphins and cast purse seines (nets pulled into a bag-like shape to enclose fish) around both tuna and dolphins. They found out that some of the dolphins are asphyxiated.

Perhaps the most important new technique is the “back down operation”. After “setting on dolphins” to catch tuna, that is, encircling both tuna and dolphins with the purse seine, the ship backs away, elongating the net, submerging the cork line in the back, and pulling the net out from under the dolphins.

According to many of the experts involved, including the Inter-American Tropical Tuna Commission, the U.S National Marine Fisheries Service, and the scientific advisor to the American Tunaboat Association, the most efficient method for fishing tuna, in term s of operational, cost, yield and conservation of the tuna population, is to set on dolphins with a purse seine.
Many experts also believe that is not possible to abandon the practice to setting on dolphins without falling into other. While research to develop better techniques is now under way, positive result are not expected in the near future.

A U.S trade embargo was imposed in February 1991 on yellow-fin tuna caught by Mexican fleets in the eastern tropical pacific. This embargo resulted from violation of the Marine Mammal Act of 1972, which was amended in 1986 to prohibit the incidental kill of dolphins during commercial tuna fishing.
In fact, a National Marine Fisheries Service scientist has stated that I Mexico has money for research; it would be better invested on behalf of the Vaquita, a species in real danger of extinction, than in the tuna-dolphin issues since there is no danger to the dolphin population as a whole.
-------------------------------------------------------------------------------------
Questions for Discussion

1. Why is there such a concern about dolphins?
2. What is your view of using the technologically most advanced country’s performance as a benchmark for evaluating other countries activities?
3. Is the denial of market access an appropriate tool to enforce a country’s environmental standards?
4. Is a zero-dolphin-death goal realistic?


Answer for the Question discussion

1. Because of many fishermen took an absolute advantage by using the nets which other side, use dolphins to catch large quantities of tuna fish. In fact, it decreased the population of dolphins.

2. I think in this country the technology is not fit the requirement yet. We can see the government does not really care about this problem. So there’s no measure that we can use. Indonesian’s technology is still under average and still can’t resemble other country’s technology. But that’s so important to realize that we cannot catch tuna-fish by using the Dolphins. That is very horrible.
In my opinion, we can use demarcation to border both of dolphins and tuna. Or in other alternative, I think we can use evacuation method for this case. We evacuate the dolphin to somewhere that safer, so that could avoiding unnecessary killing. And also we can issue the newest marine policy that explains the law of strict Dolphin’s catching. It could be another choice to decrease the dolphin’s death number.

3. The denial of market access such as embargo is not an appropriate way to enforce a country’s environmental standards. Like what U.S has done to Mexico.

4. A zero-dolphin-death goal is realistic but such effort needs to be done either by the fishermen or the government. In my opinion, the government should develop a new strategy to minimize the deaths of dolphins or the other words, decreasing unnecessary killing. Meanwhile, the fishermen should try to catch tunas in different location where dolphins’ population is rare.

Assignment - P.R - Summarize

Debora A (class: 9A)

The community consists of the organization’s neighbors who may live or work to any of the organization’s operational centre.

Community relations activity
An organization can involve itself in many ways. These are typical:
- Amateur media support
- Exhibitions
- Secondment of staff
- Educational support
- Community affairs
- Sponsorship
- Direct participation
- Self-publicity

Crisis is A time of danger. Or the situation that presents danger or a threat

Contingency planning is preparing for a forecast planning

How to deal with a situation?
- identify the problem
- think through a range of possible responses
- select one
- assemble the needed resources
- check that they all work
- start to deal with the problem

“What if” planning help to identifying possible futures
The intention of the Manager is to:
- maximize the probability of achieving the strategies
- minimize the probability of failure
- prepare specific contingency plans for the most likely events & situations

To be successful, managers must:
- identify what could happen
- quantify and evaluate each alternative
- make plans to deal with the most likely future events


Quantification.. Each scenario must be quantified, so that:
- the potential profit or loss it understood
- the probability of it occurring is known

Potential profit or loss of each scenario must be calculated. It’s good discipline to base costing on 3 evaluations:
- base case  d results if everything were to work perfectly, and all events were favorable
- worst case  d results if everything went wrong n all d events were unfavourable
- expectation  d results that are expected taking into account the internal factors and external event that can reasonable to be expected.

A contingency plan is a fully worked-through plan that is available for immediate use.
Contingency planning would have to include:
- objectives covering
- contact numbers
- responsibilities allocated for
- provisional arrangements including
- reference for every country/region/area in which coaches run (to include such items as: Official contacts: police, fire brigade, ambulance service)
- Media contacts, especially: wire service, eg. Reuters

Types of crisis:
a) Sabotage and outside attack  Sabotage is attack from inside organization –from a worker who has been redundant, or during dispute with management
b) Criticism and libel  the result of media exposure following an in-depth investigation by a team of journalist.
c) Public service
d) Product recall  the way to taking back the product from the market, because there’s something wrong on it

“NO COMMENT” always be a bad responses

Editorial
Editor  someone who approves the news and make decision for the news which will be publishing.
Sub-editors  sub editors’ takes submitted copy and actually edits it, and also he send it straight to the printing process.

News sources
Reporters  full time staff who are directed to gather information based on a given subject by the editor
Leader writers  often the editor, write thoughtful pieces about current events, these represent the considered view of the media and taken very seriously by all who read them.

Special correspondents  Specialist in a particular subject, lives in somewhere out there, and may or may not have a by-line with the media here, so if there’s something emergency, he/she could it directly and immediately.

Investigative Journalist  A reporting or reporting team who seeking out of corruption and wrong doing.

Stringers  people in a locality often a journalist on local media act part time for a bigger media

Features writers  a subject specialist with a high reputation, but a feature can be produced by anybody in d team

Columnist  write a regular column or article with regular style and follow a regular theme and he/she has they own column and page

Contributors  those who contribute with get paid or not. It’s a term used to give a description to people who do not wit with any other classification.

News agencies  commercial organizations which specialize in the supply of news stories and features. They have their own journalist and search news in d same way as the media

Picture agencies  the agencies which specialized in photography and supply the pics for the media.

The ad dept of a newspaper or mag is usually divided into 2:
- Display  the majority of the ad in most media
- Classified  the small ads that announce births and deaths, offer personal services, goods for sale

What is news is decided by media

Media officers would be a more accurate title, because there is more top media than press.
D central focus id to secure appropriate coverage in target media, by appropriate:
- The story is accurate
- It’s fairy reported
- It appears to time
- It is well placed

Assignment - Journalism



Pariwisata Bali Belum Pulih, but “I STILL LOVE BALI”
Apakah Anda punya kenangan berjalan-jalan di malam Minggu atau di masa liburan di Kuta, Bali? Bayangan Anda tentang suasana sepanjang pantai ini pasti agak pudar bila melihat kondisinya belakangan ini. Kuta, yang dulunya sangat ramai, akhir-akhir ini jumlah pengunjungnya berkurang.

Kuta adalah wilayah yang agak terbuka di Bali, dibanding wilayah lain, seperti Tanah Lot, Nusa Dua atau Pantai Sanur. Kuta juga dianggap sebagai tempat yang paling dekat dengan publik.
Tapi sekarang, Anda jangan lagi berharap akan mendengar lagi suara musik menghentak dari mobil-mobil yang diparkir atau yang berlalu-lalang di sepanjang pesisir, seperti sebelum terjadi peledakan Bom Bali II.
Di jalan-jalan pun, tak tampak lagi kemacetan lalu lintas. Padahal, para wisatawan tak perlu lagi merasa khawatir, karena pengamanan di berbagai lokasi, seperti kafe, pub, hotel yang berjajar di sepanjang wilayah ini sangat ketat. Kendati demikian, suasana pada malam hari memang agak berbeda dengan saat siang. Pada saat cahaya matahari masih merambah pantai, suasana di sepanjang pantai Kuta terasa lebih hidup. Bule-bule yang berkeliaran–suasana khas Pulau Dewata ini–mulai berkeliling, memperhatikan sekeliling, berdialog atau berbelanja.
Suara dentuman musik menggema terdengar dari salah satu diskotik di kawasan Seminyak, Kuta, Bali, Hentakan musik yang dimainkan disk jockey (DJ) dari diskotik Double Six ini memang sangat menarik minat untuk menjejakkan kaki ke sana.
Namun sejak kejadian bom suasana di diskotik yang sudah cukup terkenal di kalangan wisatawan domestik (wisdom) maupun wisatawan mancanegara (wisman) ini masih tampak sepi. Padahal, biasanya, diskotik Double Six selalu ramai dikunjungi kalangan wisatawan, apalagi pada malam Minggu.
Bahkan, biasanya pengunjung sampai berjubel hingga di pinggiran kolam renang diskotik. Sejak peristiwa peledakan bom 1 Oktober lalu, pengunjung yang datang jauh berkurang dibandingkan sebelum adanya bom.
Biasanya, setiap malam Minggu tempat itu selalu dipadati pengunjung yang jumlahnya mencapai ratusan. Karena saking ramainya, untuk berdisko di hall saja pengunjung harus ”rela” saling berdesak-desakan.
Suasana yang sama juga terlihat di tempat hiburan malam lain di kawasan Legian, Kuta. Sebut saja tempat yang bernama Apache. Apache yang selalu menyuguhkan live musik bernuansa reggae biasanya juga selalu dipenuhi turis asing maupun lokal, terutama pada malam Minggu. Tapi, week-end belakangan ini tempat itu tampak sepi pengunjung. Diskotik Double Six maupun Apache paling banyak dikunjungi wisatawan asal Australia.
Kondisi pariwisata Bali hingga saat ini memang belum sepenuhnya pulih pasca bom Bali II di Jimbaran dan Kuta yang menewaskan 23 orang. Jumlah kunjungan wisman ke Bali belum seramai sebelumnya. Kondisi pariwisata belum sepenuhnya pulih. Hal ini ditandai dengan belum banyaknya wisman yang datang.

Assignment - Indonesian Communication System


KEMENANGAN SOEHARTO ATAS PERKARA MAJALAH ‘TIME’ ASIA


Debora Aryanti
2004 08 0110
PR 8-9C
Subject : Indonesian Communication System
Lecturer: Mr. Ilham Prisgunanto

London School of Public Relations - Jakarta Campus C


Analisa Masalah
Orang nomor satu yang menduduki peringkat teratas dalam daftar koruptor dunia mendapatkan uang ganti rugi sebesar Rp 1 Triliun tampaknya membuat ‘panas’ semua pihak. Masalah ini cukup menjadi bukti bahwa kebebasan berbicara pers –yang juga merupakan hak asasi manusia- sangat terinjak-injak.
Majalah Time edisi Asia dituntut ganti rugi sebesar Rp 1 Triliun atas kerugian imateriil yang dialami mantan presiden Soeharto. Tidak hanya itu saja, Time bahkan juga diharuskan untuk meminta maaf secara terbuka melalui media nasional dan internasional atas ‘kesalahan bicara’ yang sebenarnya adalah suatu kebenaran.
Tersiar pula kabar bahwa Soeharto akan memberikan uang ganti rugi tersebut kepada rakyat miskin Indonesia. Hal ini sangat memperkuat citra beliau yang innocent dan semakin meyakinkan bahwa pemberitaan Time atas ‘uang gelap’nya tidaklah benar dan ia pantas untuk mendapatkan ganti rugi itu.Tersiarnya kabar tersebut semakin meyakinkan bahwa Time memang benar-benar bersalah. Bagi saya, hal ini terdengar sangat ironis.
Berdasarkan ke-empat berita yang telah saya cantumkan di depan, tampaknya pers dan masyarakat seperti diperhadapkan pada sistem perekonomian Voodoo yang kita kenal di dalam sistem perekonomian bahwa uang terus dikucurkan bagi pihak yang menduduki ‘bangku teratas’, dan yang ‘dibawah’ hanya mendapatkan imbasnya saja dengan dalih kebenaran dan kesejahteraan. Tetapi bedanya sekarang kita tidak sedang membahas mengenai masalah ekonomi, melainkan hak kebebasan berpendapat.
Paradigma aliran Mikro menurut saya tampak jelas di dalam kasus ini. Dimana peran pers sebagai media yang seharusnya bebas menyuarakan dan membeberkan kebenaran malah berakhir dengan tuntutan kerugian yang sangat besar. Media massa sebagai reinforce bagi public tampaknya cukup berhasil, karena mata masyarakat semakin terbuka, dan dengan sendirinya dapat menilai dengan cerdas mengenai perkara ini. Saya pribadi melihat hal ini benar-benar suatu chaos. Fakta diputar balikkan dan pihak yang mencoba menguak kebenaran malah dilanda kerugian besar.
Menurut saya Time tidak akan bertindak gegabah dalam penyelusuran harta kekayaan Soeharto yang telah berlangsung tahunan.
Pastinya sejumlah data empiris telah diperoleh Time, sehingga hal inilah yang membuat Time berani membeberkan kebenaran yang ada. Nampaknya kerugian materiil dan imateriil bukanlah melanda keluarga Soeharto, tetapi melanda Time sendiri.
Dengan dimenangkannya gugatan Soeharto yang sejumlah Rp 1 Triliun tersebut, tampaknya sangat tidak lazim Negara ini disebut Negara yang demokrasi dan mengandalkan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Disamping itu, sistem Patriaki yang dianut Indonesia tampaknya cocok dengan kejadian ini.
Mazhab dunia pers Indonesia sudah jelas tidak menganut Libertarian. Jelas sudah bahwa Authoritarianlah yang dianut mazhab dunia pers di Indonesia, mungkin untuk kasus ‘Soeharto vs Time’ ini authoritarian juga tampaknya sudah tidak cocok lagi, karena ini sudah amat sangat jauh menyimpang menurut pandangan saya.
Bisa dibayangkan, Soeharto, sebagai koruptor nomor 1 dunia mungkin sekarang sedang bersenang-senang dengan uang gugatan Rp 1 triliun yang dimenangkannya itu. Dari segi kemanusiaan dan HAM, kasus ini sama bengisnya dengan kasus ‘Biksu vs Junta militer Myanmar.’
Yang dilakukan majalah Time hanyalah mencoba menguak kebenaran, karena mungkin dunia juga bingung bagaimana koruptor yang ‘menggelapkan’ uang lebih dari 15 miliar dollar AS bisa lolos dan tetap menikmati uang rakyat yang diraup selama 32 tahun menjabat. Di sisi lain, Joseph Estrada yang ‘hanya’ menggelapkan uang sebesar 80 juta dollar AS dan yang berada di nomor bontot daftar koruptor dunia telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Ini membuktikan bahwa semua rakyat Filipina bekerja keras untuk membongkar kekayaan gelap Estrada dan menggiringnya ke pengadilan untuk mendapatkan ganjaran setimpal. Hal ini merupakan dilemma besar.
Bisakah bangsa Indonesia melakukan hal yang sama dalam menuntut keadilan?
Jika Mahkamah Agung saja memenangkan gugatan Soeharto atas Time, maka usaha apa yang bisa masyarakat lakukan jika media yang berperan sebagai wadah penyalur informasi malah diberi ganjaran Rp 1 Triliun karena mengungkap fakta?
Dalam aliran makro, pemirsa dianggap pihak yang cerdas, jadi sudah seharusnya kita sebagai pemirsa jangan hanya berperan sebagai penilai, tapi juga terus bereaksi mendukung agar pers mendapatkan kebebasannya.